Setelah 3 hari ini kondisi perasaan saya sedang bergejolak, masalah demi masalah datang silih berganti. Udah ceritanya kayak di sinetron-sinetron yang kisahnya kayak benang kusut. Ditambah lagi 2 hari kemaren listrik mati. Haduh, lengkap sudah penderitaanku. Hidup seperti dipedalaman amazon aja. Tapi akhirnya sekarang, kondisi semakin membaik, dan bisa posting yang dibawah ini
Kita adalah keturunan Raja Naipospos.
Saya yakin bahwa tarombo juga adalah sesuatu yang penting bagi keturunan Naipospos yang juga disertai rasa ingin tahu seberapa benar tarombo yang diyakininya. Karena keturunan Naipospos senantiasa haus dan lapar akan kebenaran dan tak ingin menganut sesuatu yang salah, termasuk tarombo. Itulah salah satu keunggulan kita keturunan Naipospos.
Mengetahui tarombo, demi tahu letak hubungan kekerabatan dan mampu bertutur sapa secara baik dan benar sebagai bangso Batak yang kaya akan tutur sapa (partuturan).
Hal ini terbukti melalui balasan jawaban atas pesan yang saya kirimkan kepada seluruh anggota grup facebook "Lumban Gaol" berisikan pertanyaan, berapa dan siapakah putera Raja Naipospos secara berurutan menurut yang diketahui pribadi masing-masing. Terimakasih banyak atas jawaban, Saudara-Saudari sekalian.
Perlu kita ketahui, sadar atau tidak, ternyata tarombo Naipospos terdiri atas berbagai versi yaitu sebagai berikut.
VERSI PERTAMA
-------------------
Raja Naipospos mempunyai 5 orang putera, dengan urutan:
1. Donda Hopol, yang merupakan cikal-bakal marga Sibagariang
2. Donda Ujung, yang merupakan cikal-bakal marga Hutauruk
3. Ujung Tinumpak, yang merupakan cikal-bakal marga Simanungkalit
4. Jamita Mangaraja, yang merupakan cikal-bakal marga Situmeang
5. Marbun, yang merupakan cikal-bakal marga Marbun Lumbanbatu, Marbun Banjarnahor, dan Marbun Lumbangaol
Pada versi pertama ini, Sipoholon dibantah sebagai manusia salah satu putera kandung Naipospos, melainkan sebagai nama daerah saja.
VERSI KEDUA
----------------
Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera, dengan urutan:
1. Sipoholon, yang kemudian memperanakkan Donda Hopol (Sibagariang), Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit), dan Jamita Mangaraja (Situmeang)
2. Marbun, yang kemudian memperanakkan Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol
Pada versi kedua ini, Sipoholon dan Marbun dinyatakan sungguh-sungguh manusia putera kandung Naipospos dan tujuh marga keturunan Naipospos adalah sama tingkatan generasinya.
VERSI KETIGA
----------------
Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera, dengan urutan:
1. Marbun, yang kemudian memperanakkan Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol
2. Sipoholon, yang kemudian memperanakkan Donda Hopol (Sibagariang), Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit), dan Jamita Mangaraja (Situmeang)
Versi ketiga ini hampir sama dengan versi kedua, hanya saja pada versi ketiga ini, Marbun disebut sebagai yang sulung dan Sipoholon yang bungsu.
VERSI KEEMPAT
-------------------
Raja Naipospos mempunyai 7 orang putera, dengan urutan:
1. Donda Hopol (Sibagariang)
2. Donda Ujung (Hutauruk)
3. Ujung Tinumpak (Simanungkalit)
4. Jamita Mangaraja (Situmeang)
5. Lumbanbatu
6. Banjarnahor
7. Lumbangaol
Pada versi keempat ini, Sipoholon maupun Marbun dibantah sebagai manusia putera kandung Raja Naipospos dan tujuh marga tsb dinyatakan selevel generasinya sebagai putera kandung Raja Naipospos.
============
RENUNGAN
Sehubungan dengan liburan akhir tahun dan kemungkinan banyak di antara kita yang akan pulang ke daerah asal kita masing-masing, maka amatlah baik jikalau kita mulai menyelidiki versi tarombo Naipospos yang benar dengan bertanya pada tetua kita.
Pertanyaan berikut ini mungkin dapat membantu kita dalam menyelidiki tarombo Naipospos.
Mengapa tidak ada keturunan Naipospos yang memakai marga Sipoholon, baik di bona pasogit maupun di perantauan? Padahal Naipospos dan Marbun dijadikan marga. Misalkan jika seorang keturunan Simanungkalit merantau (seperti ke Angkola, Mandailing, dsb) maka akan memakai marga Naipospos atau Pospos. Sehingga mereka tak disebut Sipoholon Simanungkalit melainkan Naipospos Simanungkalit. Padahal Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol, terlebih dahulu memargakan Marbun, maka disebut Marbun Banjarnahor, dsb. Tetapi, Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang tidak terlebih dahulu memargakan Sipoholon dan justru memargakan Naipospos. Mengapa?
Terjadi bentuk padan parhahamaranggion diantara marga-marga keturunan Naipospos, yaitu: Hutauruk dan Marbun Lumbanbatu, Simanungkalit dan Marbun Banjarnahor, Situmeang dan Marbun Lumbangaol. Terdapat 3 pasang padan parhahamarangion. Barangsiapa yang menjadi tamu di antara pasangan padan parhahamaranggion, maka seketika itu menjadi adik (anggi) dan tuan rumah menjadi abang (haha). Sebutan abang atau adik berubah-ubah tergantung posisi dan kondisi. Jadi, misalkan apabila Situmeang pergi ke rumah Marbun Lumbangaol, maka seketika itu Situmeang (tamu) menjadi adik dan Marbun Lumbangaol (tuan rumah) menjadi abang, begitu pula sebaliknya. Namun, tutur sapa terhadap Sibagariang tidaklah berubah oleh karena posisi dan kondisi. Pasangan padan parhahamaranggion Sibagariang, tidaklah ada dan tidak ada usaha di antara nenek moyang sejak zaman dahulu hingga sekarang agar pasangan padan parhahamaranggion Sibagariang ada. Sehingga, baik sebagai tuan rumah maupun tamu, tutur sapa marga-marga keturunan Naipospos tetap sama kepada marga Sibagariang. Mengapa?
Itulah 2 pertanyaan yang mungkin dapat kita jadikan sebagai penyelidikan versi tarombo Naipospos mana yang benar. Semoga pula, kita menjadi tahu versi manakah sebenarnya yang pertama diakui dan dianut oleh nenek moyang kita terlebih dahulu. Karena tak mungkin 4 versi muncul sekaligus, melainkan versi demi versi bertambah seiring perjalanan waktu dan oleh karena kesalahpahaman disana-sini.
============
PERHATIAN KITA
Yang pertama yang hendak kita selidiki adalah BERAPA DAN SIAPAKAN SEBENARNYA PUTERA RAJA NAIPOSPOS,
dan yang kedua, URUTAN PUTERA RAJA NAIPOSPOS MULAI DARI YANG SULUNG HINGGA YANG BUNGSU
Semua ini bertujuan bukanlah untuk menyalahkan siapa pun dan juga bukan untuk meninggikan atau merendahkan siapa pun. Karena kita adalah sama dan sederajat.
Melainkan, semua ini demi kesatuan kita. Agar tidak terjadi percekcokan dan kesimpangsiuran dalam bertutur sapa di antara kita keturunan Raja Naipospos. Kita adalah satu keluarga besar keturunan Raja Naipospos. Maka tentu pula, alangkah indahnya tarombo yang kita anut bersama seragam dan tidak berbeda versi.
============
SUMBER KITA
Saatnya kita bertanya dan berdiskusi dengan tetua kita yang ada di bona pasogit. Agar keaslian tarombo Naipospos yang kita dapatkan lebih terjamin.
Perlu pengutaraan BUKTI, atau tidak hanya sekedar cerita saja. Bukti yang dimaksud, bukanlah harus berupa benda (seperti: pustaha laklak), melainkan fakta dan realita kehidupan nyata yang dapat kita lihat, dengar, dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
============
SALAM
Saya yakin, kita adalah keturunan Naipospos yang peduli akan segala sesuatu tentang Naipospos.
Kita satukan paham kita (termasuk tarombo), agar kelak kita seia-sekata memajukan keturunan Naipospos.
Saya yakin bahwa tarombo juga adalah sesuatu yang penting bagi keturunan Naipospos yang juga disertai rasa ingin tahu seberapa benar tarombo yang diyakininya. Karena keturunan Naipospos senantiasa haus dan lapar akan kebenaran dan tak ingin menganut sesuatu yang salah, termasuk tarombo. Itulah salah satu keunggulan kita keturunan Naipospos.
Mengetahui tarombo, demi tahu letak hubungan kekerabatan dan mampu bertutur sapa secara baik dan benar sebagai bangso Batak yang kaya akan tutur sapa (partuturan).
Hal ini terbukti melalui balasan jawaban atas pesan yang saya kirimkan kepada seluruh anggota grup facebook "Lumban Gaol" berisikan pertanyaan, berapa dan siapakah putera Raja Naipospos secara berurutan menurut yang diketahui pribadi masing-masing. Terimakasih banyak atas jawaban, Saudara-Saudari sekalian.
Perlu kita ketahui, sadar atau tidak, ternyata tarombo Naipospos terdiri atas berbagai versi yaitu sebagai berikut.
VERSI PERTAMA
-------------------
Raja Naipospos mempunyai 5 orang putera, dengan urutan:
1. Donda Hopol, yang merupakan cikal-bakal marga Sibagariang
2. Donda Ujung, yang merupakan cikal-bakal marga Hutauruk
3. Ujung Tinumpak, yang merupakan cikal-bakal marga Simanungkalit
4. Jamita Mangaraja, yang merupakan cikal-bakal marga Situmeang
5. Marbun, yang merupakan cikal-bakal marga Marbun Lumbanbatu, Marbun Banjarnahor, dan Marbun Lumbangaol
Pada versi pertama ini, Sipoholon dibantah sebagai manusia salah satu putera kandung Naipospos, melainkan sebagai nama daerah saja.
VERSI KEDUA
----------------
Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera, dengan urutan:
1. Sipoholon, yang kemudian memperanakkan Donda Hopol (Sibagariang), Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit), dan Jamita Mangaraja (Situmeang)
2. Marbun, yang kemudian memperanakkan Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol
Pada versi kedua ini, Sipoholon dan Marbun dinyatakan sungguh-sungguh manusia putera kandung Naipospos dan tujuh marga keturunan Naipospos adalah sama tingkatan generasinya.
VERSI KETIGA
----------------
Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera, dengan urutan:
1. Marbun, yang kemudian memperanakkan Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol
2. Sipoholon, yang kemudian memperanakkan Donda Hopol (Sibagariang), Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit), dan Jamita Mangaraja (Situmeang)
Versi ketiga ini hampir sama dengan versi kedua, hanya saja pada versi ketiga ini, Marbun disebut sebagai yang sulung dan Sipoholon yang bungsu.
VERSI KEEMPAT
-------------------
Raja Naipospos mempunyai 7 orang putera, dengan urutan:
1. Donda Hopol (Sibagariang)
2. Donda Ujung (Hutauruk)
3. Ujung Tinumpak (Simanungkalit)
4. Jamita Mangaraja (Situmeang)
5. Lumbanbatu
6. Banjarnahor
7. Lumbangaol
Pada versi keempat ini, Sipoholon maupun Marbun dibantah sebagai manusia putera kandung Raja Naipospos dan tujuh marga tsb dinyatakan selevel generasinya sebagai putera kandung Raja Naipospos.
============
RENUNGAN
Sehubungan dengan liburan akhir tahun dan kemungkinan banyak di antara kita yang akan pulang ke daerah asal kita masing-masing, maka amatlah baik jikalau kita mulai menyelidiki versi tarombo Naipospos yang benar dengan bertanya pada tetua kita.
Pertanyaan berikut ini mungkin dapat membantu kita dalam menyelidiki tarombo Naipospos.
Mengapa tidak ada keturunan Naipospos yang memakai marga Sipoholon, baik di bona pasogit maupun di perantauan? Padahal Naipospos dan Marbun dijadikan marga. Misalkan jika seorang keturunan Simanungkalit merantau (seperti ke Angkola, Mandailing, dsb) maka akan memakai marga Naipospos atau Pospos. Sehingga mereka tak disebut Sipoholon Simanungkalit melainkan Naipospos Simanungkalit. Padahal Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol, terlebih dahulu memargakan Marbun, maka disebut Marbun Banjarnahor, dsb. Tetapi, Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang tidak terlebih dahulu memargakan Sipoholon dan justru memargakan Naipospos. Mengapa?
Terjadi bentuk padan parhahamaranggion diantara marga-marga keturunan Naipospos, yaitu: Hutauruk dan Marbun Lumbanbatu, Simanungkalit dan Marbun Banjarnahor, Situmeang dan Marbun Lumbangaol. Terdapat 3 pasang padan parhahamarangion. Barangsiapa yang menjadi tamu di antara pasangan padan parhahamaranggion, maka seketika itu menjadi adik (anggi) dan tuan rumah menjadi abang (haha). Sebutan abang atau adik berubah-ubah tergantung posisi dan kondisi. Jadi, misalkan apabila Situmeang pergi ke rumah Marbun Lumbangaol, maka seketika itu Situmeang (tamu) menjadi adik dan Marbun Lumbangaol (tuan rumah) menjadi abang, begitu pula sebaliknya. Namun, tutur sapa terhadap Sibagariang tidaklah berubah oleh karena posisi dan kondisi. Pasangan padan parhahamaranggion Sibagariang, tidaklah ada dan tidak ada usaha di antara nenek moyang sejak zaman dahulu hingga sekarang agar pasangan padan parhahamaranggion Sibagariang ada. Sehingga, baik sebagai tuan rumah maupun tamu, tutur sapa marga-marga keturunan Naipospos tetap sama kepada marga Sibagariang. Mengapa?
Itulah 2 pertanyaan yang mungkin dapat kita jadikan sebagai penyelidikan versi tarombo Naipospos mana yang benar. Semoga pula, kita menjadi tahu versi manakah sebenarnya yang pertama diakui dan dianut oleh nenek moyang kita terlebih dahulu. Karena tak mungkin 4 versi muncul sekaligus, melainkan versi demi versi bertambah seiring perjalanan waktu dan oleh karena kesalahpahaman disana-sini.
============
PERHATIAN KITA
Yang pertama yang hendak kita selidiki adalah BERAPA DAN SIAPAKAN SEBENARNYA PUTERA RAJA NAIPOSPOS,
dan yang kedua, URUTAN PUTERA RAJA NAIPOSPOS MULAI DARI YANG SULUNG HINGGA YANG BUNGSU
Semua ini bertujuan bukanlah untuk menyalahkan siapa pun dan juga bukan untuk meninggikan atau merendahkan siapa pun. Karena kita adalah sama dan sederajat.
Melainkan, semua ini demi kesatuan kita. Agar tidak terjadi percekcokan dan kesimpangsiuran dalam bertutur sapa di antara kita keturunan Raja Naipospos. Kita adalah satu keluarga besar keturunan Raja Naipospos. Maka tentu pula, alangkah indahnya tarombo yang kita anut bersama seragam dan tidak berbeda versi.
============
SUMBER KITA
Saatnya kita bertanya dan berdiskusi dengan tetua kita yang ada di bona pasogit. Agar keaslian tarombo Naipospos yang kita dapatkan lebih terjamin.
Perlu pengutaraan BUKTI, atau tidak hanya sekedar cerita saja. Bukti yang dimaksud, bukanlah harus berupa benda (seperti: pustaha laklak), melainkan fakta dan realita kehidupan nyata yang dapat kita lihat, dengar, dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
============
SALAM
Saya yakin, kita adalah keturunan Naipospos yang peduli akan segala sesuatu tentang Naipospos.
Kita satukan paham kita (termasuk tarombo), agar kelak kita seia-sekata memajukan keturunan Naipospos.
Sumber : Ricardo Parulian Sibagariang , Facebook Group : Lumban Gaol

Tidak ada komentar:
Posting Komentar